twitter







Wasiat Rasulullah Kepada sayyidina Ali

Sayyidina Ali berkata:”Suatu hari Rasulullah Saw memanggilku untuk datang kerumah beliau,aku pun datang dan berduaan dengan Rasulullah didalam rumahnya,lalu beliau bersabda:”Wahai Ali,kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa,tapi ingat tidak nabi setelahku.

Wahai Ali,pada hari ini aku berwasiat kepadamu,apabila engkau memelihara wasiat ini,maka engkau akan hidup mulia,apabila engkau mati maka engkau mati dalam keadaan syahid dan pada hari kiamat Allah akan membangkitkanmu sebagai orang yang fakih dan alim.

Wahai Ali,barang siapa yang memakan makanan yang halal,maka agamanya akan suci,hatinya akan bersih dan doanya akan maqbul.Barang siapa yang memakan makanan yang subhat,maka agamanya akan samar dan hatinya akan gelap.Dan barang siapa yang memakan makanan yang haram,maka hatinya akan mati,agamanya akan dientengkan,keyakinannya akan lemah, doanya tidak akan dikabulkan dan ibadahnya sedikit.

Wahai Ali,apabila Allah murka kepada seseorang,maka Allah akan memberikannya rizki dari harta yang haram dan apabila Allah sangat murka,maka yang menjadi pendampingnya adalah syaitan,sibuk kepada dunia dan lupa akan agamanya serta mengenteng-entengkan perbuatan maksiatnya dengan mengatakan “Allah itu kan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Wahai Ali,tidak ada seorang musafir pun yang keluar dengan tujuan untuk mencari harta yang haram kecuali bila ia berjalan,maka syaitanlah pendampingnya,bila ia berkendaraan,maka syaitanlah yang menjadi sopirnya,dan tidak ada seorang pun yang lupa menyebutkan asma’ Allah ketika ia menjima’ istrinya kecuali syaitan akan berjima’ bersamanya dan ikut memasukkan mani kedalam Rahim istrinya.

Wahai Ali,Allah SWT tidak akan pernah menerima shalat yang tidak ada wudhu’nya dan Allah tidak akan menerima shadaqah dari harta yang haram.

Wahai Ali,orang yang mukmin adalah orang yang senantiasa bertambah agamanya dan tidak memakan makanan yang haram.Barang siapa yang menjauhkan diri dari para alim ulama’ maka hatinya akan mati dan buta dari ketaatan kepada Allah.

Wahai Ali,barang siapa yang membaca Al Qur’an tetapi ia tidak menghalalkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah,maka Allah akan memberikan buku catatan amalnya dari belakang punggungnya.



PENDOSA LEBIH DEKAT DENGAN ALLAH DIBANDINGKAN AHLI IBADAH 


Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Pendosa yang tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah, itu lebih dekat dengan Allah dari pada ahli ibadah yang berputus asa terhadap rahmat Allah”.

Hikayat Pertama : 
 
Diceritakan oleh Zaid bin Aslam yang beliau terima dari Umar ra, bahwa dahulu kala ada seorang laki-laki yang sangat giat melakukan ibadah. Tubuhnya tekadang sampai letih karena beribadah. Namun, ia sering membuat orang-orang berputus asa karenanya. Tatkala ia meninggal dunia, ia dihadapkan kepada Allah dan
berkata : “ Wahai Tuhanku, ganjaran apa yang aku dapatkan darimu?”, maka Allah menjawab : “ Neraka”. Ia pun berkata : “Wahai Tuhanku, lalu dimana pahala ibadahku dan jihadku?”, lalu Allah menjawab : “sesungguhnya engkau telah membuat orang-orang berputus asa terhadap rahmatKU semasa hidup di dunia, maka saat ini AKU pun akan membuatmu berputus asa dari rahmatKU (disiksa)”.

Hikayat kedua :
Dahulu kala ada seorang laki-laki yang tidak memiliki sedikitpun kebaikan kecuali rasa tauhidnya kepada Allah. Tatkala hampir akan meninggal dunia, ia berwasiat kepada keluarganya: “Jika aku telah mati, maka bakarlah jenazahku sampai menjadi debu kemudian buanglah kelaut disaat angin bertiup kencang. Maka wasiatpun dijalankan. Lalu Allah mengumpulkannya dan bertanya : “Kenapa engkau melakukan perbuatan itu?”, maka ia menjawab : “Hamba malu dan takut kepadaMU ya Allah”. Maka Allah pun mengampuninya sedangkan ia tidak memiliki kebaikan sama sekali melainkan rasa tauhidnya kepada Allah.

Hikayat Ketiga:
Ada seorang laki-laki meninggal dunia pada zaman Nabi Musa as. Orang-orang tidak ada yang mau memandikan, mengkafani, menyolatkan dan menguburkannya dikarenakan kefasikannya.  Mereka pun memegang kedua kaki dan tangannya kemudian melemparkannya ke tempat sampah. Lalu Allah SWT mewahyukan kepada nabi Musa :  “Wahai Musa, ada seorang laki-laki yang meninggal dunia di kampung si pulan, ia dibuang ke tempat sampah sedangkan ia adalah waliKU. Namun penduduk kampong itu tidak ada yang mau memandikan, mengkafani dan menguburkannya, maka pergilah engkau, lalu mandikan, kafankan, sholatkan dan kuburkanlah ia”. Maka pergilah nabi Musa ke kampong itu dan bertanya kepada mereka tentang keberadaan mayat itu. Mereka berkata : “memang ada seorang laki-laki yang meninggal dunia yang sifatnya seperti apa yang Anda sebutkan itu, tetapi ia adalah laki-laki yang fasik”. Kemudian nabi Musa berkata : “lalu dimana tempatnya, karena Allah SWT telah mewahyukan kepadaku”. Maka merekapun memberitahukan tempatnya dan Beliau pergi bersama-sama mereka. Ketika mereka sampai dan nabi Musa melihat sendiri tempat pembuangannya, merekapun kembali menceritakan tentang perihal laki-laki itu bahwa ia adalah seorang laki-laki yang jahat perangainya. Mendengar hal itu, nabi Musa pun bermunajat kepada Allah SWT : “ Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkan hamba untuk menyolatkan dan menguburkannya, sedangkan masyarakatnya menyaksikan bahwa ia adalah orang yang jahat perangainya, namun Engkau lebih Mengetahui daripada mereka mengenai kebaikan dan keburukannya”. Maka Allah mewahyukan kepada nabi Musa : “ Wahai Musa, memang benar apa yang dikatakan oleh masyarakatnya itu bahwa ia adalah laki-laki yang jahat perangainya. Namun ketika akan tiba ajalnya, ia memohon tiga syafaat kepadaKU yang seandainya syafaat itu dipergunakan oleh seluruh orang-orang yang berdosa, niscaya AKU akan mengabulkannya. Bagaimana mungkin AKU tidak mengasihaninya disaat ia mreminta sedangkan AKU adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Lalu Musa berkata : “ Apakah yang tiga perkara itu wahai Tuhanku?”. Allah berfirman : “Ketika akan tiba ajalnya, hambaKU itu berkata : “Wahai Tuhanku, Engkau lebih mengetahui daripada hamba, sesungguhnya hamba adalah orang yang bergelimang dengan kemaksiatan, namun hati hamba sangat membenci kemaksiatan itu, akan tetapi karena ada tiga perkara yang menyebabkan hamba melakukan maksiat sembari hamba membencinya yaitu hawa nafsu, sahabat yang buruk dan iblis laknatullah, karena tiga hal inilah yang menyebabkan hamba jatuh dalam kemaksiatan dan Engkau Maha tahu apa yang hamba katakana, maka ampunilah hamba. Kedua, ia berkata : “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau tahu bahwa hamba selalu melakukan maksiat sehingga kedudukan hamba sama dengan orang yang fasik, akan tetapi hamba senang bersahabat dengan orang-orang yang shalih dan orang-orang yang zuhud. Duduk bersama mereka lebih hamba cintai dari pada duduk bersama orang-orang yang fasik. Ketiga, ia berkata : “wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau lebih tahu dari pada hamba bahwa orang yang shalih lebih hamba cintai daripada orang yang fasik, sehingga bila dua orang datang menjumpai hamba sedang diantara mereka ada yang shalih dan yang thalih, maka hamba lebih mendahului hajat orang yang shalih itu daripada orang yang thalih. Pada riwayat lain disebutkan : “ wahai Tuhanku, jika Engkau memaafkan hamba dan mengampuni dosa-dosa hamba, maka para wali dan para nabimu pasti akan bahagia dan syaitan akan bersedih dimana mereka adalah musuhku dan musuhMU. Jika Engkau menyiksa hamba karena sebab dosa-dosaku, maka syaitan dan bala tentaranya akan riang gembira sedangkan para wali dan para nabiMU akan bersedih hati. Sesungguhnya hamba tahu bahwa kebahagian para waliMU tentunya lebih Engkau sukai daripada kebahagian syaitan dan bala tentaranya, maka ampunilah hamba. Ya Allah, sesungguhnya Engkau lebih tahu daripada hamba terhadap apa yang hamba utarakan, maka kasihanilah hamba dan bebaskanlah hamba dari siksaan neraka”. Lalu Allah berfirman : “AKU pun merahmatinya dan mengampunkan dosanya serta membebaskannya dari siksa neraka, karena sesungguhnya AKU Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang khususnya bagi orang yang mengakui dosanya dihadapanKU. Wahai Musa, laksanakan apa yang telah AKU perintahkan kepadamu. Dan sesungguhnya karena kemuliaan hambaKU, maka AKU akan mengampuni dosa orang-orang yang menyolati jenazahnya dan menghadiri pemakaman jenazahnya”.
Sumber : Kakanda Irwandani, Terjemahan Kitab Ushfuriyyah Syaikh Muhammad Bin Abu Bakar




 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.       Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, menurut Kirk dan Miller dalam Sudarto (1995) mendefinisikan penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan peristilahannya. Disamping itu, Bungin dan Meleong (2006:6 dalam Irianto, 2011:5) mendefinisikan penelitian kualitatif di gunakan untuk meneliti masalah-masalah yang membutuhkan studi yang mendalam seperti studi perilaku, motivasi, persepsi, dampak, implementasi kebijakan publik, dan lainnya secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Dalam kasus penelitian ini difokuskan pada analisis faktor sosial dan ekonomi dari terbentuknya klaster perdagangan di kawasan Nipah.

3.2.       Obyek dan Informan Penelitian
3.2.1.           Obyek penelitiannya adalah faktor sosial dan ekonomi masyarakat Nipah sebagai akibat adanya klaster perdagangan.
3.2.2.           Informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengambil sampel seorang pedagang ikan bakar dan yang memiliki keterkaitan usaha di kawasan Nipah Lombok Utara.

3.3.       Metode Pengumpulan Data
Pada tahap penelitian ini agar diperoleh data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan, maka dat diperoleh melalui :
3.3.1.      Wawancara Mendalam (Indepth interview) 
Wawancara sebagai upaya mendekatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada informan. Tanpa wawancara, peneliti akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh dengan jalan bertanya langsung. Adapun wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak berstruktur, dimana di dalam metode ini memungkinkan pertanyaan berlangsung luwes, arah pertanyaan lebih terbuka, tetap fokus, sehingga diperoleh informasi yang kaya dan pembicaraan tidak kaku (Singarimbun dkk, 1989).
 Adapun dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara bersama kepala desa Malaka dan masyarakat setempat sebagai pelaku. Hal demikian dilakukan dengan tujuan untuk memeproleh data secara luas dan menyeluruh sesuai dengan kondisi saat ini.
3.3.2.      Observasi Langsung
Observasi langsung adalah cara pengumpulan data dengan cara melakukan pencatatan secara cermat dan sistematik. Observasi harus dilakukan secara teliti dan sistematis untuk mendapatkan hasil yang bisa diandalkan, dan peneliti harus mempunyai latar belakang atau pengetahuan yang lebih luas tentang objek penelitian, mempunyai dasar teori dan sikap objektif. Dengan observasi secara langsung peneliti dapat memahami konteks data dalam berbagai situasi. Maksudnya dapat memperoleh pandangan secara menyeluruh. Untuk itu peneliti dapat melakukan pengamatan secara langsung dalam mendapatkan bukti yang terkait dengan objek penelitian.
3.3.3.      Dokumen
yaitu proses melihat kembali sumber-sumber data dari dokumen yang ada dan dapat digunakan untuk memperluas data-data yang telah ditemukan. Adapun sumber data dokumen diperoleh dari lapangan berupa buku, arsip, majalah bahkan dokumen perusahaan atau dokumen resmi yang berhubungan dengan fokus penelitian.

3.4.       Teknik Analisa Data
Bodgan & Biklen dalam Kriyantono (2009) mengemukakan analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Tahap analisis data memegang peran penting dalam riset kualitatif, yaitu sebagai faktor utama penilaian kualitas riset. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dimana analisis data yang digunakan bila data-data yang terkumpul dalam riset adalah data kualitatif berupa kata-kata, kalimat-kalimat, atau narasi-narasi, baik yang diperoleh dari wawancara mendalam maupun observasi dan melalui data kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulan yang berifat khusus kepada yang bersifat umum kemudian disajikan dalam bentuk narasi. (Kriyantono, 2009: 194).

3.5.       Jenis Dan Sumber Data
3.5.1.      Jenis Data
Data kualitatif yaitu data yang sangat berkaitan dengan fieldwork. Artinya, peneliti secara fisik terlibat langsung dengan orang, latar (setting), tempat, atau institusi untuk mengamati atau mencatat perilaku dalam latar alamiahnya. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Penelitian ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling, bahkan samplingnya sangat terbatas. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari sampling lainnya. Penelitian kualitatif lebih menekan pada persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data. (Kriyantono, 2009:56).
Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, penelitian ini secara praktis berusaha untuk mengkaji dampak sosial dan ekonomi dari terbentuknya klasterisasi. Dalam uraian yang lebih lugas, penelitian ini berusaha untuk memberikan deskripsi dan eksplanasi terhadap peluang dan tantangan di masa yang akan dating berdasarkan analisis SWOT.
3.5.2.      Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama. Adapun data primer dalam peneiltian adalah jawaban-jawaban dari responden terkait dampak yang terjadi dari klaster perdagangan.


3.6.       Prosedur Analisis Data
Tahapan ini disusun secara sistematis agar diperoleh data secara sistematis pula. Ada empat tahap yang bisa dikerjakan dalam suatu penelitian, yaitu:
3.6.1        Tahap Pra Lapangan
Pada tahap pra-lapangan merupakan tahap penjajakan lapangan. Ada lima langkah yang dilakukan oleh peneliti yaitu :
(1)          Menyusun rancangan penelitian
(2)          Memilih lapangan penelitian
(3)          Menjajaki dan menilai lapangan
(4)          Memilih dan memanfaatkan informan
(5)          Menyiapkan perlengkapan penelitian
3.6.2        Tahap Lapangan
Dalam tahap ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
(1)          Memahami latar penelitian dan persiapan diri
(2)          Memasuki Lapangan
(3)          Berperan serta sambil mengumpulkan data
3.6.3        Tahap Analisa Data
Analisa data merupakan suatu tahap mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar agar dapat memudahkan dalam menentukan tema dan dapat merumuskan hipotesa kerja yang sesuai dengan data (Lexy J. Moleong, 2006).  Pada tahap ini data yang diperoleh dari berbagai sumber, dikumpulkan, diklasifikasikan dan analisa.
3.6.4        Tahapan Penulisan Laporan
Penulisan laporan merupakan hasil akhir dari suatu penelitian, sehingga dalam tahap akhir ini peneliti mempunyai pengaruh terhadap hasil penulisan laporan. Penulisan laporan yang sesuai dengan prosedur penulisan yang baik karena menghasilkan kualitas yang baik pula terhadap hasil penelitian.